in

Riwayat Penemuan Ganesha Semeru

Semeru, Dari Puncak Widodaren 1836

Ganesha Berdiri Koleksi Leiden museum, Atau biasa disebut Ganesha Semeru, karena konon temuannya dari Gunung Semeru. Namun Semeru yang mana?

Semeru dipagari oleh 3 Kabupaten: Malang, Pasuruan serta Lumajang. Lokasi2 itu juga banyak ditemukan benda purbakala.

Karena tak puas hanya menyebut Semeru, akhirnya kemalasan di hancurkan dengan rasa penasaran.Hingga seperti inilah jawab dari penarasannya.

Mahameru, menjulang tinggi besar pada sisi Timur Pulau Jawa. Gunung yang disebut-sebut oleh Raffles ini belum pernah ditahklukkan oleh orang Eropa sampai awal abad XIX. Hingga akhirnya, gunung ini kemudian menarik mina F.  W. Van Nes, yang menjabat sebagai Residen Pasuruan pada waktu itu.

Rabu, 3 Agustus 1836, Ekspedisi besarpun dimulai, Van Nes, ditemani oleh Dickelman (Asisten Res. Malang),  kontroler Schonke dan Van Der Poel, dan di iringi oleh banyak orang rombongan ini berangkat dari Kota Malang pukul 8 Pagi Menuju ke Timur, hingga sampai Gondang Legi dan terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di desa Majang Tengah pada pukul 3 Sore.Karena telah petang, rombongan inipun memutuskan untuk meninap, dimana ditempat ini puncak Semeru di arah utara yang mengepulkan asap dapat mereka lihat dengan menggunakan teropong.

Esok paginya, pukul 6 pagi dengan menunggang kuda, rombongan inipun berangkat menuju Mahameru yang digdaya.

(Dan sampai disini, saya memakai nama tempat yang sesuai mereka tulisakan  )

Jalan mereka mulai menembus hutan belantara, namun sudah ada jalan kecil yang telah mereka buat pada tahun 1832, sampai akhirnya mereka melewatii sungai Padang dan Pringapus dan masuk wilayah hutan bernama Sugih Petung.Mereka kemdian melihat bukit kecil yang berada di sebelah kanan jalan setapak. Di tempat ini mereka menemukan berbagai benda purbaka.

Pertama adalah arca Ganesha berdiri setinggi 4 kaki, lebar 2 kaki. Disebelahnya ada batu dengan berbagai hiasan yang mereka pikir adalah bagian atas pintu (Kala?).Melihat temuan tersebut, merekapun kemudian memutuskan untuk berkeliling dilokasi itu hingga mereka menemukan batu yang ditumpuk menyerupai pemakaman. Rotasi akhirnya diperluas, dan mereka menemukan benda purbakala lagi berupa batu penampung air, dengan panjang 4 kaki, lebar 2 kaki, dan tinggi 2 kaki. Habis?? Belom,  ada lagi sebuah batu yang di ukir dengan bentuk kepala naga, kepalanya dua, saling terpilin dan membelakangi.Seolah tak puas, mereka melanjutkan pencarian, dan menemukan harta sesungguhnya. Sebuah batu, besar, T: 5 kaki, Lebar: 2 kaki dan tebal 3 inchi. Batu ini tidak berukir, tidak juga polos, karena di dalamnya berisi aksara yang mereka sebut sebagai aksara Jenggala.

Puas, merekapun kemudian melanjutkan perjalanannya dan tiba di tempat yang disebut sebagai Jurang Sono Sekar.

Pukul 9.30 pagi mereka beristirahat dipinggiran sungai bernama Kali Manjing. aliran sungai ini berakhir pada sebuah air terjun setinggi 150 kaki, dasarnya berupa pasir hitam, dan sekeiling dipenuhi dengan rimbunnya pohon bambu.Dan pertempuranpun, dimulai….Kuda wajib mereka tinggal, jalan tidak lagi dapat ditempuh dengan tapak bantuan, sumber air juga sudah tidak ada. Dimana dengan terpaksa mereka harus memotong bambu untuk wadah air yang mereka ambil dari Kali Manjing.

Lima jam lamanya kaki melangkah, akhirnya mereka sampai pada sebuah gunung yang disebut Widodaren yang berselimutkan pepohonan cemara yang luar biasa besarnya. Dipuncak Widodaren, seolah Semeru memamerkan ke agungannya. Ujung gunung yang meruncing seolah siap memangsa mereka yang menampakkan kesombongannya. Sesekali asap lurus membumbung tinggi di iringi dengan suara gemuruh yang menggetarkan hati.

Sadar akan waktu, mereka memutuskan untuk kembali menginap di gunung Widodaren, sembari mengumpulkan nyali yang sempat terkebiri.Sabtu, 5 Agustus, pukul 6 Pagi,  mereka dikejutan dengan suara menggelegar tak jauh dari tempat mereka mengumpulkan energi. Dimana setelah dilihat ternyata batu besar kiriman Mahameru melewati dasari jurang tak jauh dari tempat mereka berada.Seolah tertantang, merekapun melanjutkan perjalanan. Dua jam berjalan, akhirnya mereka melewati batas vegetasi. Semula hamparan hijau, kini berubah menjadi lautan batu dan pasir yang seakan tiada kahir. Terik mentari bukan satusatunya teror yang mereka hadapi, yang mana, di tengah birunya langit namun suara guntur seakan tiada henti.Tak sampai disitu, Gumpalan asap putih kembali membumbung tinggi disertai hujan pasir dan debu yang mereka hadapi. Semakin tinggi mereka melangkah, semakin ganas pula mendan yang mereka lewati. Pasir seakan semakin lunak, yang mana baru mereka sadari jika yang mereka injak adalah lava yang telah mendingin belum begitu lama.Hingga, merekapun akhirnya, menyerah dan memutuskan untuk kembali.

Puncak Mahameru belum terjamah oleh orang Eropa hingga tahun 1844. Dimana pada tahun tersebut, Junghuhn merupakan pendaki asing pertama yang mampu melihat kaldera kawahnya.van Nes beserta rombongannya merupakan orang terakhir dan mungkin pertama yang melihat arca Ganesha beserta rombongannya. Selepas itu tidak ada kabar lagi.

Ilang dong?

Bentar sabar, ada berita menarik yang patut dicermati.

Resident Horsfield, 1847 membangun sebuah kolam pemandian di Pasuruan, yang kita kenal dengan nama Banyu Biru hingga sekarang. Ia memugar pemandian kuna tersebut, dimana sebelumnya dinding kolam berupa bata kuna. Bata ini kemudian di “tumpangi” dengan batuan kali, embuh apa karepnya, penguasa mah bebas.

Tidak sampai disitu, pemandian inipun kemudian di isi dengan benda-benda purbakala, beberapa di antaranya serupa dengan benda2 yang pernah di lihat oleh van Nes (disini mentemen kalau ada foto kepurbakalaan Banyu Biru boleh share). Tapi, tidak ada arca Ganesha berndiri disana.

Lha terus???

Untuk menemukannya, kita melompat 40 tahun kemudian. 1885, Leemans, menyusun sebuah katalog benda purbakala Jawa yang berada di Museum Leiden. Disana ia keheranan dengan sebuah arca Ganesha besar, semenjak ia bekerja dia tidak mengetahui laporan pengiriman arca itu dan hal inipun membuatnya penasaran.

Setelah ia telusuri, ternyata arca ini adalah sebuah hadiah untuk kerajaan Belanda. tau Siapa pengirimnya?  F.  W. VAN NES. Sang Residen Pasuruhan.

Kekira begitu perjalanannya, untuk prasasti, kami sudah serahkan kepada ahlinya yang mungkin lebih menguasai bidang ini. Jadi kita tunggu saja hasilnya.

Semeru, Dari Puncak Widodaren. 1836.Ganesha Museum Vulkekunde Leiden, Wikihow.

Salin tempel dari tulisan Ancah Yosi Cahyono di grup Kandang Kebo Facebook

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0